tk17teladan.sch.id - Anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun mental. Anak perlu mendapat penidikan yang baik sehingga potensi yang ada pada dirinya dapat berkembang dengan pesat serta tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang bermanfaat dan menjadi penerus generasi keluarga, bangsa dan negara.
Setiap anak memiliki perkembangan yang dialami secara berbeda. Perkembangan serta pertumbuhan anak terus berlangsung sampai anak dewasa. Pada masa golden age lah anak mengalami perkembangan yang sangat pesat dan hanya satu kali dalam fase kehidupan setiap manusia. Dengan demikian anak tidak boleh disia-siakan keberadaannya, dan beri stimulasi yang baik, dan benar untuk anak (Khaironi, 2018).
Anak berhak diberikan dan dikembangan seluruh aspek perkembangannya, terlebih pada moral anak. berdasarkan banyak sekali fenomenafenomena perilaku negatif yang kerap sekali dilakukan atau terjadi pada kalangan anak-anak di kehidupan sehari-harinya. Dari berbagai media dijumpai kasus anak yang memiliki sikap berbicara kasar atau tidak sopan bahkan meniru adegan kekerasan. Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada situs resminya https://www.kpai.go.id menuliskan bahwa di dalam kurun waktu 9 tahun ini dimulai dari 2011 sampai dengan 2019 tercatat ada 37.381 pengaduan untuk kekerasan terhadap anak dan untuk Bullying baik di dalam lingkup pendidikan maupun sosial media angkanya sendiri mencapai 2.473 laporan dan kasusnya terus meningkat (KPAI, 2020). Fenomena ini dapat dilihat dari kasus-kasus bullying yang terjadi pada anak usia dini dimana bisa jadi pelakunya adalah sesame teman sebayanya. Anak prasekolah (PAUD) terkadang juga melakukan perilaku agresif, tapi jika perilaku ini dilakukan berulang-ulang dan dengan tujuan menakuti seseorang ataupun sekelompok anak lainnya, maka ini dapat juga dikatakan bahwa anak tersebut melakukan tindakan bullying (Putri et al., 2020). Hal ini sangat membuat prihatin yang melihatnya, mengingat kurangnya moral yang terapkan oleh orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung dalam meningkatkan moral anak, serta orangorang dewasa yang tidak mencontohkan dengan baik kepada anak dibawah usianya.
Memberi anak pemahaman mengenai moral tidak cukup dengan hanya menjelaskan saja, harus dibarengi dengan memberi contoh, dan melakukan cara atau strategi dalam meningkatkannya. Jika hanya dijelaskan saja kemungkinan anak tidak akan langsung memahami apa yang dimaksud, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Susanto, bahwa perkembangan moral pada ana masih dalam tingkat yang rendah, karena intellektualnya anak belum mampu menerapka secara langsung prinsip abstrak tentang benar salah dan tidak memiliki dorongan untuk mengikuti peraturan dikehidupan sosial.
Memberi pendidikan kepada anak tentang agama juga penting, karena dapat meningkatkan perilaku anak yang berdasarkan keagamaan. Pendidikan agama selayaknya diajarkan sejak dini, dimulai dalam keluarga, sejak ada dalam kandungan sampai setelah anak lahir. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan agama karena orangtua adalah guru pertama bagi anak-anaknya (Saifullah, 2017).
Memberi strategi anak dalam meningkatkan moral anak bisa dengan mengenalkan puasa pada anak karena puasa memiliki manfaat yang baik dan banyak dalam aspek perkembangan agama dan moral anak. Puasa merupakan salah satu ibada yang dilakukan oleh umat Islam yang memiliki arti menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, misalnya menuruti keinginan farji, syahwat dan perut mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari engan niat yang khusus. Puasa termasuk salah satu dalam rukun Islam, puasa dibagi menjadi 2 yaitu, puasa sunah dan puasa wajib. Puasa wajib terdiri dari puasa ramadhan dan puasa nazar, sedangkan dalam puasa sunah banyak jenisjenisnya, diantaranya sebagai berikut : puasa sunah senin kamis, puasa sunah selang-seling, puasa tiga hari setiap bulan, puasa sunah enam hari dibulan syawal, puasa sunah arafah, asyura, sya’ban dan puasa sepuluh hari dzulhijjah (Arifin, 2013). Pada Agama Islam nilai pendidikan puasa itu sangat besar, sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar bertakwa” (Q.S Al-Baqarah (2):183).
Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa diwajibkan untuk berpuasa, dan orang-orang yang bertakwa adalah orangorang yang melakukan kewajibannya yaitu salah satunya berpuasa. Yang dimaksud orang bertakwa adalah orang yang tercegah, terhindar dan terpeliharadari macam mara bahaya atau kejahatan yang mampu membawa manusia kepada kerusakan baik lahir dan batinnya (Husna, 2016).
Selain menjadi sebuah yang diwajibkan, puasa juga dapat mencegah diri dari perkatanaan yang keji, kotor, kasar dan dusta. Hal ini sesuai dengan fenomena-fenomena yang tengah dialami saat ini. Banyak sekali manfaat dari berpuasa, mulai dari perilaku, ucapan, sampai kesehatan. Bahkan puasa akan membuka kesempatan bagi orang yang berpuasa memasuki pintu Ar-rayyan kelak disurga nanti, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW hadits riwayat Bukhari dan Muslim, yaitu (Husna, 2016):

“Sesungguhnya di Surga terdapat pintu yang disebut ‘ar-rayyan’. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain itu juga orang yang berpuasa tidak akan memasukinya juga. Barang siapa yang berpuasa maka akan diseru ‘mana orang yang berpuasa’. Lantas mereka yang berpuasa berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya. Apabila orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan pada akhirnya tidak ada yang memasukinya”. (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, menyebutkan bahwa ar-rayyan adalah nama dari salah satu pintu yang berada disyurga dikhususan untuk orang-orang yang berpuasa. Meskipun anak-anak belum memasuki masa puber, orangtua bisa memperkenalkan puasa sejak dini pada anak. mengenalkan puasa pada anak juga tentunya penting, supaya kelak nanti anak terbiasa dan berpuasa, dikarenakan berpuasa bukanlah hal yang mudah karena harus menahan lapar dan haus selama satu hari. Tak hanya itu, anak juga harus tau apa saja manfaat dan amalan puasa. Mengenalkan puasa kepada anak memang harus dikenalkan sedini mungkin meski anak belum bisa ikut berpuasa sepenuuhnya atau beberapa jam saja dan bahkan tidak berpuasa sama sekali. Harus diketahui juga dilihat dari segi kesehatan, seorang dokter spesialis anak konsultan nutrisi metabolic yaitu Nurul Hafifah mengatakan, anak bisa ikut berpuasa pada usia tujuh tahun. Karena pada usia tersebut dampak kesehatan yang tiak diinginkan akibat berpuasa minim ditemui (Khaironi, 2018).
Sebagai orangtua yang menjalankan ibadah berpuasa, sebaiknya tidak memaksa anak untuk ikut berpuasa, karena fisik dan mental anak yang memang belum siap untuk melakukan puasa. Sebab hal tersebut mempengaruhi pertumbuhan anak. Tahapan pengenalan puasa harus dilakukan secara tepat oleh orangtua. Enny Nazra Pulungan dalam penelitiannya menyatakan bahwa anak kecil tidak dituntut berpuasa sebulan Ramadhan penuh, karena ia tidak mampu dan hal ini tidak masuk akal. Ia hanya dituntut pada awal bulan dua hari atau tiga hari, kemudian tahun berikutnya selama seminggu, tahun berikutnya lagi dua minggu, sehingga dengan cara bertahap ini, akhirnya ia mampu melaksanakan sebulan penuh (Pulungan, 2021).
Peran keluarga terlebih orangtua sangatlah penting sekali. Berdasarkan latar belakang inilah peneliti melakukan kajian terhadap bagaimana strategi orang tua dalam mengenalkan konsep puasa pada anak ini. Dengan tujuan supaya orangtua diluar sana mengetahui bagaimana strategi yang benar dalam mengenalkan konsep puasa pada anak.
Sumber : Strategi Pengenalan Konsep Berpuasa Ramadhan Pada Anak Usia Dini, Jazariyah, Ende Riani, Puteri Aprilianeu C.R, Tasya Nurul Annisa : Pendidikan Islam Anak Usia Dini, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2021
Silahkan tinggalkan komentar Anda di bawah ini :
0 Komentar